Laporan
Ekstraksi dan analisis lemak
A. TUJUAN
1. Mengisolasi
lemak/minyak dari bahan alam dengan metode ekstrsaksi minyak menggunakan
peralatan soklet.
2. Menghitung randemen
minyak yang duperoleh (% b/b)
3. Menguji sifat lemak
secara kimia dengan menentukan bilangan asam dan bilangan penyabunan.
B. DASAR TEORI
Dalam banyak literatur
ilmiah dipakai istilah lipid yang berarti lemak, minyak atau unsur yang
menyerupai lemak yang didapat dalam pangan dan digunakan dalam tubuh. Lemak
mengandung lebih banyak karbon dan lebih sedikit oksigen daripada karbohidrat.
Oleh karena itu lebih banyak mempunyai nilai tenaga (Sudarmadji, 1989).
Lemak merupakan suatu
senyawa ester yang terbentuk dari gliserol asam lemak (asam karboksilat).
secara umum lemak (Fat) dan minyak (oil) merupakan golongan lipida yaitu
senyawa organik yang terdapat dalam alam serta tak larut dalam air, tetapi
larut dalam pelarut organik non-polar seperti suatu hidrokarbon atau
dietileter.
Lemak dan minyak
merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipid. Satu sifat yang
khas mencirikan golongan lipid (termasuk minyak dan lemak) adalah daya larutnya
dalam pelarut organik (misalnya eter, benzen, kloroform) atau sebaliknya
ketidak-larutannya dalam pelarut air (Harper, 1980).
Lemak dan minyak atau
secara kimiawi adalah trigliserida merupakan bagian terbesar dari kelompok
lipid. Secara umum, lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi
suhu ruang berada dalam keadaan padat. Sedangkan minyak adalah trigliserida
yang dalam suhu ruang berbentuk cair. Secara lebih pasti tidak ada batasan yang
jelas untuk membedakan minyak dan lemak ini (Sudarmadji, 1989).
Satu molekul gliserol
dapat bersenyawa dengan 1-3 molekul asam lemak memebentuk: Monogliserida dengan
1 asam lemak, digliserida dengan 2 asam lemak, trigliserida dengan 3 asam
lemak.
Dalam proses
pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul
gliserol dengan tiga molekul asam-asam lemak yang membentuk satu molekul
trigliserida dan tiga molekul air (Sudarmadji, 1989).
Bilangan asam
menunjukkan banyaknya asam lemak bebas dalam minyak dan dinyatakan dengan mg
basa per 1 gram minyak. Bilangan asam juga merupakan parameter penting dalam
penentuan kualitas minyak. Bilangan ini menunjukkan banyaknya asam lemak bebas
yang ada dalam minyak akibat terjadi reaksi hidrolisis pada minyak terutama
pada saat pengolahan. Asam lemak merupakan struktur kerangka dasar untuk
kebanyakan bahan lipid (Agoes, 2008).
Lipid merupakan
senyawa yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari gugus nonpolar.
Sebagai akibat sifat-sifatnya, mereka mudah larut dalam pelarut nonpolar dan
relatif tidak larut dalam air (Colby, 1988).
Ekstraksi yang
dilakukan menggunakan metoda sokletasi, yakni sejenis ekstraksi dengan pelarut
organik yang dilakukan secara berulang ulang dan menjaga jumlah pelarut relatif
konstan dengan menggunakan alat soklet. Minyak nabati merupakan suatu senyawa
trigliserida dengan rantai karbon jenuh maupun tidak jenuh. Minyak nabati
umumnya larut dalam pelarut organik, seperti heksan dan benzen. Untuk
mendapatkan minyak nabati dari bahagian tumbuhannya, dapat dilakukan dengan
metoda sokletasi menggunakan pelarut yang sesuai.
Adapun prinsip
sokletasi ini adalah penyaringan yang berulang ulang sehingga hasil yang
didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila
penyaringan ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya
adalah zat yang tersari. Metode sokletasi menggunakan suatu pelarut yang
mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan
tersebut, tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak diinginkan.
Metoda sokletasi
seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. Jika
pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ), tidak dapat digunakan dengan
baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi
cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi
ataupun perkolasi ini, maka cara yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan
ini adalah sokletasi
Sokletasi digunakan
pada pelarut organik tertentu. Dengan cara pemanasan, sehingga uap yang timbul
setelah dingin secara kontunyu akan membasahi sampel, secara teratur pelarut
tersebut dimasukkan kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan
diisolasi tersebut. Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu
distilasi yang diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut
dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat
ditemui pada suatu zat padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut
yang diinginkan.
Ekstraksi dilakukan
dengan menggunakan secara berurutan pelarut – pelarut organik dengan kepolaran
yang semakin menigkat. Dimulai dengan pelarut heksana, eter, petroleum
eter, atau kloroform untuk memisahkan senyawa – senyawa trepenoid dan lipid –
lipid, kemudian dilanjutkan dengan alkohol dan etil asetat untuk memisahkan
senyawa – senyawa yang lebih polar. Walaupun demikian, cara ini
seringkali tidak menghasilkan pemisahan yang sempurna dari senyawa – senyawa
yang diekstraksi.
Dibanding dengan cara
terdahulu ( destilasi ), maka metoda sokletasi ini lebih efisien, karena:
1.
Pelarut organik dapat
menarik senyawa organik dalam bahan alam secara berulang kali.
2.
Waktu yang digunakan
lebih efisien.
3.
Pelarut lebih sedikit
dibandingkan dengan metoda maserasi atau perkolasi.
4.
Pelarut tidak
mengalami perubahan yang spesifik.
C. ALAT DAN BAHAN
·
ALAT :
1.
Alumunium foil
2.
Batang pengaduk
3.
Benang kasur
4.
Buret 50 mL
5.
Corong tangkai pendek
6.
Dongkrak
7.
Gelas kimia
8.
Kertas saring
9.
Kondensor leibig (
Pendingin Leibig)
10.
Labu dasar bulat
11.
Labu erlenmeyer tutup
gelas asah
12.
Lumpang dan alu
13.
Oven
14.
Penangas air
15.
Pipet tetes
16.
Seperangkat peralatan
ekstraksi soxhlet
17.
Tabung reaksi
18.
Timbangan analitik
19.
Rotavapor
20.
Eksikator
·
BAHAN :
1.
Alkohol 95 %
2.
Aquadest
3.
Asam klorida 0,1 N
4.
Etil asetat
5.
Indikator
Phenolptalein
6.
Kacang
7.
Kalium hidroksida 0,5
N
8.
Minyak goreng
9.
Natrium hidroksida 0,1
N
D. CARA KERJA
1. EKSTRAKSI
·
Bahan baku (dalam
keadaan kering) digerus terlebih dahulu lalu ditimbang sebanyak 5 gram dan
dimasukkan ke dalam slongsong atau dibungkus dengan kertas saring dan diikat
dengan benang.
·
Timbang labu dasar
bulat yang akan digunakan dengan neraca analitik (A gram)
·
Masukkan pelarut yang
tersedia ke dalam labu tersebut dengan volume 3-4 kali volume tabung soxhlet.
·
Rangkai labu dengan
tabung soxhlet dan kondensor seperti pada gambar, kemudian cek aliran airnya.
·
Panaskan penangas pada
suhu yang sesuai dengan titik didih pelarut.
·
Pamanasan dilakukan
terus menerus sampai terjadi sirkulasi campuran minyak dan pelarut di dalam soxhlet
extractor (sampai larutan yang
keluar dari tabung soxhlet bening, atau sirkulasi telah berjalan selama 12-15
kali / min 2 jam)
·
Ekstrak kemudian
didestilasi untuk memisahkan pelarut dari minyak atau dapat dipisahkan
menggunakan rotavapor.
·
Minyak yang ada di
dalam labu dasar bulat yang masih mengandung sedikit air/pelarut dikeringkan di
dalam oven pada suhu 120o C selama 2 jam lalu dikeringkan di dalam
eksikator dan ditimbang kembali (B gram).
2. ANALISA LEMAK
·
Penentuan bilangan asam
Sebanyak 2,5 gram
contoh lemak atau minyak dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 100 mL, tambahkan
ke dalamnya 15 ml etanol 95 %san 3 tetes indikator phenolptalein 1 %. Lalu
titrasi dengan larutan Natrium hidroksida 0,1 N sampai timbul warna merah muda
yang tetap. Ulangi penentuan ini sebanyak 2 kali.
·
Penentuan bilangan penyabunan
Sebanyak 2,0 gram
contoh lemak atau minyak dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml, tambahkan
25 ml larutan KOH 0,5 N dalam alkohol. Selanjutnya erlenmeyer tersebut
dihubungkan dengan pendingin tegak dan direfluks selama 1 jam.
Setelah itu erlenmeyer
diangkat, tambahkan 3 tetes indikator phenolptalein dan larutan dititrasi
dengan larutan HCl 0,5 N sampai terjadi perubahan warna. Percobaan dilakukan
dua kali. Kerjakan juga penetapan blanko.
E. DATA PENGAMATAN
1. EKSTRAKSI
·
Berat
sampel
= 19,5239 gram
·
Berat labu kosong +
batu didih = 166,77 gram
·
Berat labu + minyak
= 172,91 gram
·
Berat
minyak
=
(berat labu+ minyak) – berat labu kosong
= 172,91 –
166,77
=
6,14 gram
·
Randemen yang
diperoleh = 31,45 %
2. ANALISA LEMAK
·
Penentuan bilangan asam
Bilangan asam
= 40 x Normalitas NaOH x ml NaOH
Gram contoh
= 40 x 0,1 x 0,15
2,5030
2,5030
= 0,2397
·
Penentuan bilangan penyabunan
Bilangan penyabunan =
(blanko-titrant) x N HCl x 56,1
Gram contoh
Gram contoh
=
(8,4-7,9) x 0,1 x 56,1
2,0022
2,0022
=
1,4010
F. REAKSI KIMIA
1.
a. Uji bilangan asam
2.
b. Uji penyabunan
PEMBAHASAN
Penetapan minyak atau
lemak dapat dilakukan dengan mengekstraksi bahan yang diduga mengandung minyak
atau lemak. Proses ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut etil asetat.
Setelah contoh uji bebas air dan dihancurkan dengan cara digiling, sebelum
melakukan proses ekstraksi yang pertama dilakukan adalah menggerus secara
halussampel kacang. Hal ini dilakukan untuk mempermudah minyak yang ada di
dalam kacang tersebut terekstrak oleh pelarut yang digunakan, yaitu etil
asetat. Hal ini juga berhubungan dengan ukuran partikel yang semakin kecil
sehingga memperluas bidang sentuh supaya lebih mudah terekstrak. Proses
ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat yang mempunyai titik didih kurang
dari titik didih air, maka penangas yang digunakan adalah penangas air karena
suhu yang dibutuhkan dalam proses ekstraksi di bawah titik didih air. Lalu
biarkan hingga pelarutnya yaitu etil asetat menguap dan mengembun dengan
membawa ekstraksi minyak dari bahan yang diekstrak yaitu kacang ke dalam labu
dasar bulat . seharusnya proses ekstraksi dilakukan hingga 15 siklus, hal ini
dilakukan agar memastikan bahwa kandungan minyak yang berada di dalam sampel
kacang telah terekstrak seluruhnya. Namun karena keterbatasan waktu praktikum
maka proses ekstraksi hanya dilakukan hingga siklus ke tujuh. Hal ini bisa
menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kadar minyak dalam sampel rendah
karena minyak dalam sampel belum terekstrak dengan sempurna.
Seteleah sirkulasi
proses ekstraksi selesai, dilakukan distilasi atau pemisahan pelarut dengan
minyak hasil ekstraksi. Proses destilasi dilakukan dengan menggunakan alat
rotavapor. Rotavapor atau rotary evaporator adalah suatu alat yang menggunakan
prinsip vakum destilasi. Pelarut etil asetat dan minyak dapat dipisahkan karena
prinsip utama alat ini terletak pada penurunan tekanan, sehingga etil asetat
dapat menguap dibawah titik didihnya dan hal ini membuat zat yang terkandung di
dalam pelarut tidak rusak oleh suhu yang tinggi. Penguapan yang terjadi saat
proses destilasi dapat terjadi karena adanya pemanasan yang dipercepat oleh
putaran dari labu alas bulat dibantu dengan penurunan tekanan. Dengan bantuan
pompa vakum, uap larutan akan naik ke kondensor dan mengalami kondensasi
menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas
bulat penampung. Proses penguapan dilakukan hingga diperoleh ekstrak kental
yang ditandai dengan terbentuknya gelembung-gelembung udara yang pecah-pecah
pada permukaan ekstrak atau jika sudah tidak ada lagi pelarut yang menetes pada
labu alas bulat penampung. Ketika proses destilasi sudah selesai dan saat ingin
melepaskan labu alas bulat, kami mengalami kesulitan. Jika labu alas bulat
sulit untuk dilepaskan maka kemungkinannmasih tersisa tekanan pada kondensor
dan sebaiknya kran pengatur dibuka dengan cepat. Dan hal penting yang harus
diperhatikan adalah suhu yang digunakan dalam waterbath. Suhu yang
digunakan harus sesuai dengan pelarut yang digunakan.
Prakikum Angka Penyabunan
Prinsip kerja angka
penyabunan adalah sejumlah tertentu sampel minyak/ lemak direaksikan dengan
basa alkali berlebih yang telah diketahui konsentrasinya menghasilkan griserol
dan sabun. Sisa dari NaOH dititrasi dengan menggunakan HCl yang telah diketahui
konsentrasinya juga sehingga dapat diketahui berapa banyak NaOH yang bereaksi
yang setara dengan asam lemak dan asam lemak bebas dalam sampel.
Pada saat melakukan
percobaan untuk menguji angka penyabunan sampel minyak direaksikandengan
NaOH dalam alkohol berlebih, seharusnya ditambahkan KOH, namun karena
keterbatasan alat sehingga digantikan fungsinya dengan menggunakan NaOH. Pada
saat melakukan percobaan untuk menentukan angka penyabunan, asam lemak dan asam
lemak bebas dari minyak (sampel) dengan menggunkan NaOH dalam Alkohol dapat
membentuk sabun,
Reaksinya:
Angka penyabunan
tersebut adalah banyaknya mg NaOH yang diperlukan untuk menyabunkan secara
sempurnya 1g Lemak atau minyak.
Pada saat percobaan
angaka penyabunan juga digunakan titrasi blanko ( titrasi tanpa menggunakan
sampel) yang berfungsi untuk mengetahui jumlah titer yang bereaksi dengan preaksi.
Sehingga dalam perhitungan tidak terjadi kesalahan yang disebabkan oleh
preaksi.
Angka Asam
Prinsip pada saat
melakukan percobaan angka asam adalah sejumlah tertentu sampel yang mengandung
lemak atau minyak dilarutkan dalam alkohol kemudian direfulks selama 1 jam,
sampel yang telah larut tersebut dititrasi dengan menggunakan basa alkali yang
konsentrasinya telah diketahui untuk dihitung angka asamnya.
Fungsi penambahan
alkohol adalah untuk melarutkan lemak atau minyak dalam sampel agara dapat
bereaksi dengan basa alkali. Karena alkohol yang digunakan adalah untuk
melarutkan minyak, sehingga alkohol (etanol) yang digunakan konsentrasinya
berada di kisaran 95-96%, karena etanol 95 % merupakan pelarut lemak yang baik.
Fungsi pemanasan
(refluks) saat percobaan adalah agar reaksi antara alkohol dan minyak tersebut
bereaksi dengan cepat, sehingga pada saat titrasi diharapkan alkohol (etanol)
larut seutuhnya.
Sama seperti percobaan
angka penyabunan seharusnya basa alkali yang digunakan adalah KOH, namun karena
keterbatasan zat, maka preaksi yang digunakan digantikan fungsinya dengan NaOH.
Reaksi yang terjadi
pada saat percobaan
O
O
R4 – C –
OH +
NaOH
R4-C-ONa + H2O
Asam lemak bebas
yang terdapat dalam lemak atau minyak dapat dinetralkan dengan menggunakan
basa. Sehingga angka asam adalah mg basa alkali yang diperlukan untuk
menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 g lemak atau minyak.
KESIMPULAN
1.
Pada ekstraksi minyak dalam
kacang tanah didapatkan :
·
Berat minyak yang
diperoleh
6,14
gram
·
Rendemen yang
diperoleh
31,45 %
1.
Angka penyabunan
adalah banyaknya mg NaOH yang digunakan untuk menyabunkan secara sempurna 1
gram lemak atau minyak secara sempurna. Angka penyabunan dari sampel
adalah:1,4010
2.
Angka Asam adalah
banyaknya mg NaOH yang dipelukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang
terdapat dalam 1 g lemak atau minyak. Angka asam yang didapat dari sampel
adalah: 0,2397
DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet Petunjuk
Praktikum Kimia Organik : Ekstraksi dan Identifikasi Lemak/ Minyak
( diunduh 19 Mei 2011)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17775/4/Chapter%20II.pdf (diakses tanggal 25 Mei 2011 pada 22.10 WIB)

